RingkasanMedia.id – Jakarta, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan data suhu maksimum harian di Indonesia untuk periode 27 Maret 2026 pukul 07.00 WIB hingga 28 Maret 2026 pukul 07.00 WIB. Hasilnya, suhu tertinggi tercatat mencapai 35,9 derajat Celsius di Stasiun Meteorologi Kalimarau, Berau, Kalimantan Timur.
Angka tersebut menunjukkan bahwa kondisi cuaca panas masih cukup kuat dan merata di berbagai wilayah Indonesia. Bahkan, wilayah Kalimantan mendominasi daftar daerah dengan suhu tertinggi pada periode ini.
Beberapa wilayah di Kalimantan yang mencatat suhu tinggi antara lain:
* Kapuas Hulu, Kalimantan Barat: 35,5°C
* Banjarmasin, Kalimantan Selatan: 35,0°C
* Palangkaraya, Kalimantan Tengah: 34,6°C
* Banjarbaru, Kalimantan Selatan: 34,3°C
* Kotawaringin Barat: 34,1°C
* Barito Utara: 34,0°C
Dominasi ini menandakan adanya pergeseran pusat panas dibandingkan hari-hari sebelumnya.
Tidak hanya di Kalimantan, wilayah Indonesia bagian tengah hingga timur juga mencatat suhu maksimum yang cukup tinggi. Di antaranya:
* Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara: 35,0°C
* Gorontalo: 35,0°C
* Maumere, Nusa Tenggara Timur: 35,0°C
* Boven Digoel, Papua: 34,8°C
* Bitung, Sulawesi Utara: 34,5°C
* Manokwari, Papua Barat: 34,3°C
Hal ini menunjukkan bahwa suhu panas tidak terpusat di satu wilayah saja, melainkan tersebar luas di berbagai daerah Indonesia.
Sementara itu, wilayah barat Indonesia yang sebelumnya mendominasi suhu tinggi kini mulai mengalami penurunan. Di Pulau Jawa, suhu maksimum tertinggi tercatat di Surabaya, Jawa Timur, yakni sekitar 34,0 derajat Celsius.
Kondisi ini sejalan dengan prediksi BMKG bahwa Indonesia saat ini tengah memasuki fase peralihan menuju musim kemarau 2026. Perubahan tersebut dipengaruhi oleh berakhirnya fenomena La Niña lemah dan kondisi ENSO yang netral, serta potensi munculnya El Niño pada pertengahan tahun.
Situasi ini berpotensi meningkatkan suhu udara sekaligus mengurangi curah hujan di sejumlah wilayah.
BMKG mengingatkan bahwa suhu panas ekstrem dapat berdampak pada kesehatan dan lingkungan, seperti dehidrasi, kelelahan akibat panas, meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan, hingga terganggunya aktivitas luar ruangan. Selain itu, sektor pertanian dan ketersediaan air juga berpotensi terdampak.
Masyarakat diimbau untuk tetap waspada dengan cara memperbanyak konsumsi air putih, menghindari aktivitas di bawah terik matahari, menggunakan pelindung seperti topi atau payung, serta rutin memantau informasi cuaca terbaru dari BMKG.
Data terbaru ini menegaskan bahwa suhu panas di Indonesia masih berlangsung dengan pola yang dinamis, sekaligus menjadi indikator penting perubahan kondisi atmosfer menjelang musim kemarau 2026.






