RingkasanMedia.id – Samarinda, Kabar duka menyelimuti keluarga besar suporter sepak bola Kota Samarinda. Samin, yang lebih dikenal dengan sapaan Pak Lek Pusam, meninggal dunia dan meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, sahabat, serta ribuan suporter yang selama puluhan tahun mengenalnya sebagai sosok setia di tribun Stadion Segiri.
Di rumah duka yang beralamat di Jalan Hasan Basri, Kelurahan Sungai Kledang, Kecamatan Samarinda Seberang, suasana haru menyelimuti keluarga, kerabat, dan para suporter yang datang silih berganti untuk memberikan penghormatan terakhir. Kepergian Pak Lek bukan hanya menjadi kehilangan bagi keluarga, tetapi juga bagi komunitas sepak bola Samarinda yang tumbuh bersama dedikasi dan kecintaannya terhadap olahraga tersebut.
Bagi pencinta sepak bola Kota Tepian, nama Pak Lek bukanlah sosok asing. Ia telah menjadi bagian dari perjalanan panjang sepak bola Samarinda, mulai dari era Persisam Putra Samarinda, Pusamania, hingga Borneo FC Samarinda.
Dirigen Pusamania, Rio, mengaku masih sulit mempercayai kabar berpulangnya sosok yang selama ini begitu dekat dengan para suporter.
“Saya kenal beliau sejak zaman Persisam. Siapa yang tidak kenal Pak Lek, khususnya pencinta sepak bola Samarinda. Dari era Persisam, Pusamania, hingga sekarang Borneo FC, hampir semua suporter mengenal beliau,” ujarnya, Rabu (3/6/2026).
Menurut Rio, julukan Pak Lek yang melekat hingga akhir hayat lahir dari rasa hormat para suporter kepada sosok yang mereka anggap sebagai orang tua sekaligus panutan di tribun.
“Beliau adalah sosok yang kami hormati dan kami tuakan di Pusamania. Dari situlah panggilan Pak Lek semakin melekat,” katanya.
Di mata para suporter, Pak Lek bukan sekadar pendukung setia yang hadir di setiap pertandingan. Ia merupakan figur yang membuat tribun terasa hidup. Dengan suara khasnya, ia kerap menyapa para suporter dari berbagai wilayah Samarinda sebelum pertandingan dimulai maupun saat jeda laga berlangsung.
Sapaan sederhana tersebut menciptakan suasana hangat dan akrab di tengah ribuan penonton. Banyak suporter merasa dekat dengannya karena keramahan dan kepeduliannya terhadap sesama pencinta sepak bola.
“Beliau selalu menyapa teman-teman di tribun. Bertanya siapa yang datang dari Cendana, Palaran, dan daerah lainnya. Itu yang membuat suasana stadion terasa berbeda,” kenang Rio.
Meski usia tidak lagi muda dan kondisi kesehatan mulai menurun, kecintaan Pak Lek terhadap sepak bola tidak pernah surut. Dalam beberapa pertandingan terakhir, ia diketahui tetap hadir mendukung Borneo FC meski sedang mengalami gangguan kesehatan.
“Tiga sampai lima pertandingan terakhir beliau memang sudah sakit, terutama di bagian pinggang. Tetapi beliau tetap hadir untuk mendukung Borneo FC. Itu yang membuat kami semua sangat kagum terhadap dedikasinya,” ungkap Rio.
Kepergian Pak Lek menjadi pukulan bagi banyak suporter. Rasa kehilangan tidak hanya dirasakan oleh Pusamania maupun pendukung Borneo FC, tetapi juga oleh sejumlah kelompok suporter dari berbagai daerah di Indonesia.
“Teman-teman suporter dari berbagai daerah juga menyampaikan belasungkawa. Bahkan ada yang menghubungi kami dari Arema dan Bonek. Mereka turut merasa kehilangan sosok Pak Lek,” ujarnya.
Rio meyakini kepergian Pak Lek akan meninggalkan ruang kosong yang sulit tergantikan di tribun Stadion Segiri.
“Saya yakin stadion akan terasa lebih sepi. Kita kehilangan seseorang yang selalu aktif, ramah, dan berusaha menyatukan teman-teman suporter,” katanya.
Sementara itu, anak bungsu almarhum, Ali Reza, mengatakan kecintaan ayahnya terhadap sepak bola Samarinda telah menjadi bagian dari hidupnya selama puluhan tahun. Meski berasal dari Pulau Jawa, dedikasi Pak Lek terhadap sepak bola Kota Tepian tidak pernah berkurang.
“Beliau memang sangat mencintai sepak bola Samarinda. Dari saya kecil sudah diajak menonton pertandingan di stadion. Sampai sekarang pun saya masih sering mendampingi beliau,” tuturnya.
Ali juga menceritakan asal-usul julukan Pak Lek yang kemudian dikenal luas masyarakat Samarinda. Berdasarkan cerita yang sering disampaikan sang ayah, panggilan tersebut sudah ada sejak era 1990-an ketika ia aktif membantu penyelenggaraan pertandingan di Stadion Segiri.
Kala itu, stadion masih menggunakan papan skor manual berbahan kayu dan Pak Lek turut membantu mengganti angka skor setiap pertandingan berlangsung.
“Dari situ beliau mulai dikenal dan dipanggil Pak Lek. Lama-kelamaan nama itu melekat dan dikenal oleh para suporter hingga sekarang,” jelasnya.
Kepergian Pak Lek Pusam menjadi kehilangan besar bagi dunia sepak bola Samarinda. Sosoknya akan selalu dikenang sebagai suporter yang setia, ramah, dan tanpa lelah mengabdikan dirinya untuk mendukung klub kebanggaan Kota Tepian.
Suara khasnya mungkin telah terhenti, namun semangat, loyalitas, dan kecintaannya terhadap sepak bola akan terus hidup dalam ingatan para suporter yang pernah berdiri bersama di tribun Stadion Segiri.
Selamat jalan, Pak Lek Pusam. Terima kasih atas dedikasi dan cintamu untuk sepak bola Samarinda.
Semoga amal ibadah almarhum diterima di sisi Allah SWT, diampuni segala khilafnya, serta keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan dan kekuatan. (M.I.A.D)






