RingkasanMedia.id – Sungai Mariam, Upaya pencegahan stunting tidak selalu harus dimulai dari program besar. Di Desa Sungai Mariam, Kecamatan Anggana, langkah sederhana justru lahir dari dapur rumah tangga. Melalui program Dapur Gizi Amerta Mahakam, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Mulawarman (Unmul), Universitas Nahdlatul Ulama (UNU), dan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Samarinda (STIKSAM) mengajak para ibu memanfaatkan potensi pangan lokal untuk memenuhi kebutuhan gizi keluarga.
Kegiatan yang berlangsung di Posyandu Apel, Jumat (15/8/2026), menghadirkan edukasi dan praktik langsung pembuatan makanan bergizi berupa nugget ikan lele dan mie bayam. Program ini menjadi bagian dari upaya bersama menekan angka stunting yang masih menjadi perhatian di Desa Sungai Mariam.
Puluhan ibu tampak antusias mengikuti setiap tahapan kegiatan. Mereka tidak hanya mendapatkan pengetahuan mengenai gizi seimbang, tetapi juga belajar mengolah bahan pangan yang mudah ditemukan di lingkungan sekitar menjadi menu sehat untuk anak-anak.
Perwakilan KKN Amerta Mahakam dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Mulawarman, Laurensia Meylanie Tanudjaja, mengatakan pencegahan stunting dapat dimulai dari langkah sederhana yang dapat dilakukan setiap keluarga.
“Pencegahan stunting tidak harus mahal dan tidak harus menunggu bantuan dari luar. Melalui pemanfaatan bahan pangan lokal yang mudah diperoleh masyarakat, keluarga dapat menyediakan makanan bergizi untuk anak-anak mereka,” ujarnya.

Menurut Laurensia, ikan lele dipilih karena merupakan salah satu komoditas yang banyak dibudidayakan masyarakat Sungai Mariam. Selain mudah didapatkan, ikan lele juga memiliki kandungan protein yang baik untuk mendukung tumbuh kembang anak.
“Di Sungai Mariam banyak masyarakat yang membudidayakan lele. Kandungan proteinnya sangat baik untuk membantu memenuhi kebutuhan gizi anak, khususnya dalam upaya pencegahan stunting,” jelasnya.
Ia berharap kegiatan tersebut dapat menjadi contoh bagi masyarakat bahwa pemenuhan gizi keluarga bisa dilakukan dengan memanfaatkan potensi lokal yang tersedia di desa.
Kolaborasi lintas perguruan tinggi juga menjadi kekuatan utama dalam kegiatan ini. Jika tim KKN Unmul dan UNU fokus pada pengolahan sumber protein melalui nugget ikan lele, STIKSAM melengkapi konsep gizi seimbang melalui penyajian mie bayam yang kaya serat dan karbohidrat.
Ketua KKN STIKSAM, Ahmad Fahda Nur, menjelaskan bahwa metode edukasi melalui praktik memasak dinilai lebih efektif karena melibatkan peserta secara langsung.
“Kami membagi tim untuk membantu kegiatan memasak dan pelayanan kesehatan di posyandu. Melalui praktik langsung, para ibu lebih mudah memahami dan mengingat materi yang diberikan. Dari Unmul ada pengolahan protein melalui nugget lele, sementara kami melengkapi dengan sumber karbohidrat dan serat dari mie bayam,” katanya.
Selain demonstrasi memasak, kegiatan juga diisi dengan pelayanan kesehatan berupa penimbangan balita, pengukuran tinggi badan, serta pemeriksaan kesehatan bagi lansia seperti cek tekanan darah, gula darah, dan kolesterol.
Ketua Posyandu Apel, Hj. Noor Syamsiah, mengapresiasi kolaborasi yang dilakukan para mahasiswa bersama masyarakat.
“Alhamdulillah, kami sangat terbantu dengan kegiatan dari KKN Unmul, UNU, dan STIKSAM. Banyak manfaat yang didapat masyarakat, terutama pengetahuan baru tentang pemenuhan gizi keluarga dan pencegahan stunting,” ujarnya.
Bagi masyarakat Sungai Mariam, stunting bukan sekadar angka statistik. Persoalan tersebut menyangkut masa depan anak-anak yang membutuhkan perhatian bersama. Karena itu, edukasi yang menyentuh langsung kehidupan sehari-hari dinilai menjadi salah satu langkah penting dalam membangun kesadaran masyarakat.
Melalui kegiatan ini, Posyandu Apel tidak hanya menjadi tempat pelayanan kesehatan rutin, tetapi juga berkembang menjadi ruang belajar dan pemberdayaan masyarakat. Dari dapur rumah, para ibu diajak memahami bahwa mereka memiliki peran besar dalam membangun generasi yang sehat dan berkualitas.
Dengan memanfaatkan ikan lele hasil budidaya lokal dan bahan pangan yang mudah dijangkau, langkah kecil yang dilakukan hari ini diharapkan menjadi awal perubahan besar dalam upaya menekan angka stunting di Desa Sungai Mariam. Karena pada akhirnya, masa depan anak-anak dibangun dari keputusan-keputusan sederhana yang dilakukan setiap hari di rumah. (M.I.A.D)







