RingkasanMedia.id – Samarinda, Kehidupan adalah proses yang terus bergerak dan perubahan bukanlah hal yang harus ditakuti. Pesan mendalam tersebut disampaikan oleh perwakilan lulusan, Laras Tiksna Lestari, saat menyampaikan kesan dan pesan pada prosesi Wisuda Universitas Islam Negeri Sultan Aji Muhammad Idris (UINSI) Samarinda, Kamis (27/8/2026).
Mengusung tema “Terus Berubah, Terus Hidup”, Laras mengajak ratusan sejawatnya untuk sejenak menengok kembali perjalanan panjang dan terjal selama menempuh bangku kuliah. Menurutnya, momen wisuda bukan sekadar seremoni mengenakan toga atau menerima lembar ijazah.
“Wisuda adalah tentang seluruh perjuangan yang tidak pernah tercatat di lembaran transkrip nilai, namun terekam abadi dalam ingatan kita masing-masing,” tutur Laras di hadapan para wisudawan dan senat kampus.
Ia merawat ingatan bersama tentang dinamika khas kehidupan mahasiswa: menghabiskan waktu di lorong kampus menunggu antrean bimbingan, hingga berkali-kali membawa draf skripsi yang dipenuhi coretan revisi.
Dalam refleksinya, Laras menyitir pemikiran legendaris Tan Malaka dalam buku *Madilog* bahwa segala sesuatu yang hidup pasti mengalami perubahan. Baginya, setiap deretan revisi, kegagalan, rasa cemas, dan dinamika perkuliahan bukanlah hambatan, melainkan esensi dari proses pendewasaan itu sendiri.
“Kita bukan sedang menunggu untuk hidup. Kita sedang betul-betul hidup di setiap perubahan itu,” tegasnya.
Laras juga menyampaikan rasa terima kasih dan penghormatan setinggi-tingginya kepada para dosen UINSI Samarinda. Menurutnya, jajaran pengajar tidak sekadar mentransfer ilmu pengetahuan, melainkan membekali mahasiswa agar tetap tegak berdiri di tengah ketidakpastian zaman.
Menatap masa depan pascakelulusan, Laras mengingatkan bahwa wisuda bukanlah garis akhir, melainkan gerbang awal menuju fase kehidupan yang lebih menantang—fase di mana setiap keputusan tak lagi berada dalam pengawasan langsung ruang akademik.
“Jangan takut pada versi diri kita yang belum selesai, karena hidup kita memang tidak pernah dirancang untuk berhenti hari ini,” pesannya membakar semangat para lulusan.
Suasana haru menyelimuti ruangan ketika Laras menyampaikan penghormatan khusus kepada para orang tua. Ia menegaskan bahwa gelar akademik yang diraih para wisudawan hari itu pada hakikatnya adalah persembahan bagi ayah dan ibu atas deretan doa, keringat, dan pengorbanan yang tak terhitung jumlahnya.
“Kalian adalah kalimat pertama sebelum kami belajar merangkai kata-kata lain,” ucap Laras penuh haru.
Menutup orasinya, Laras mengajak seluruh wisudawan UINSI Samarinda untuk melangkah ke babak baru kehidupan dengan penuh keberanian dan keterbukaan terhadap perubahan.
“Let’s keep changing, because that’s how we know we’re still alive,” pungkasnya. (M.I.A.D)







