Ringkasanmedia.id Samarinda —Di tengah era sepak bola Indonesia yang semakin pragmatis, di mana perputaran kursi manajer dan pemain seolah menjadi rutinitas musiman, Borneo FC Samarinda justru menghadirkan sebuah cerita berbeda. Klub asal Kalimantan Timur ini memutuskan memanggil pulang salah satu figur sentralnya, Dandri Dauri, untuk kembali menduduki posisi manajer tim.
Keputusan ini menjadi angin segar di tengah dinamika industri sepak bola yang kian didominasi oleh hitung-hitungan bisnis. Dandri, sosok yang dikenal tidak hanya karena jabatannya, tetapi karena kedekatannya dengan denyut nadi klub, dianggap sebagai simbol loyalitas dan representasi identitas lokal Borneo FC.
“Ini bukan soal jabatan, ini soal tanggung jawab moral terhadap klub yang sudah seperti keluarga sendiri,” kata Dandri, singkat namun bermakna, saat ditanya mengenai kembalinya ia ke struktur manajemen Pesut Etam.
Fenomena kembalinya Dandri bisa dibaca sebagai perlawanan halus terhadap tren “asing-isasi” di kompetisi domestik, terutama dengan regulasi baru Liga 1 yang memungkinkan 11 pemain asing dalam skuad dan 8 di antaranya bisa bermain secara bersamaan. Dalam situasi seperti ini, mempertahankan sosok manajer lokal yang memahami kultur tim menjadi keputusan strategis, bukan sekadar romantisme.
Dandri sendiri menyadari bahwa tantangan musim ini akan jauh lebih kompleks. Ia tidak memungkiri bahwa kekuatan finansial dan kebijakan transfer akan menjadi penentu peta persaingan. Namun, menurutnya, Borneo FC punya modal yang tidak dimiliki semua tim: ikatan emosional dengan komunitas dan semangat kolektivitas yang terjaga.
“Borneo FC punya karakter sendiri. Kami tidak dibangun dari dana besar, tapi dari mimpi yang dikawal bersama. Selama semangat itu ada, kami akan selalu punya tempat di papan atas,” ujar Dandri dengan keyakinan.
Kembalinya Dandri juga menandai pentingnya menjaga keseimbangan antara profesionalisme dan humanisme dalam mengelola klub. Di saat banyak tim mengedepankan manajemen berbasis data dan strategi bisnis semata, Borneo FC memilih memastikan bahwa faktor “kemanusiaan” tetap hidup di ruang ganti.
“Saya ingin jadi jembatan antara manajemen dan pemain. Kadang, tim tidak butuh solusi teknis, tapi cukup didengarkan. Itu yang ingin saya jaga,” tambahnya.
Kini, dengan Dandri kembali di barisan manajemen, Borneo FC seperti ingin mengirim pesan: di tengah kompetisi yang makin keras, ada nilai-nilai dasar yang tak boleh dilupakan. Identitas lokal, kedekatan dengan komunitas, dan rasa memiliki terhadap klub menjadi bahan bakar utama dalam perjalanan mereka.
Apakah langkah ini cukup untuk mengantarkan Borneo FC ke tangga juara? Hanya waktu yang akan menjawab. Namun satu yang pasti, di Samarinda, loyalitas masih punya tempat di sepak bola. (ARD)






