Renovasi Tahap Lanjutan Tuntas, Masjid Raya Darussalam Samarinda Resmi Dibuka Kembali

RingkasanMedia.id – Samarinda, Di tengah denyut aktivitas pusat kota, Masjid Raya Darussalam Samarinda kembali membuka lembaran baru sejarahnya. Seusai pelaksanaan Sholat Jumat, Jumat (13/2/2026), Wali Kota Samarinda, Andi Harun meresmikan rampungnya renovasi tahap lanjutan rumah ibadah tersebut di hadapan para pejabat dan jamaah.

Peresmian digelar di Masjid Raya Darussalam Samarinda dan dihadiri Wakil Wali Kota H. Saefuddin Zuhri, para asisten, kepala perangkat daerah, direktur utama BUMD, Kabag Kesra, Kepala Kementerian Agama, Ketua TWAP, Camat Samarinda Kota, serta lurah setempat. Kehadiran unsur pemerintah dan tokoh masyarakat menandai dukungan bersama terhadap penyelesaian proyek renovasi tersebut.

Bacaan Lainnya

Dalam sambutannya, Andi Harun menegaskan bahwa masjid ini memiliki nilai historis penting bagi Kota Samarinda. Keberadaannya tidak terlepas dari perjalanan panjang perkembangan sosial, ekonomi, budaya, dan spiritual masyarakat kota.

Ia memaparkan, bangunan masjid awalnya bernama Masjid Jami’ yang mulai dibangun pada 1920 dengan ukuran 25 x 25 meter persegi. Struktur awal menggunakan kayu ulin dengan atap sirap ulin dan belum memiliki halaman. Serambi kanan berada di tepi jalan, sementara serambi kiri menghadap Sungai Mahakam.

Renovasi pertama dilakukan pada periode 1952–1955 karena kapasitas masjid tak lagi mampu menampung jamaah, khususnya saat Sholat Jumat. Sejumlah tokoh seperti almarhum Datuk Madjo Oerang, APT Pranoto, dan KH Abdullah Marisi terlibat dalam pembaruan tersebut.

Di bawah arahan APT Pranoto, panitia pembangunan dibentuk dengan melibatkan arsitek Dinas PU Kalimantan Timur, Van Der Vyl, sebagai perancang. Pada 9 November 1953, Kepala Daerah Istimewa Kutai saat itu, AM Parikesit, meletakkan batu pertama pembangunan dengan anggaran sebesar Rp2.500.000.

Secara arsitektur, masjid mengadopsi gaya Timur Tengah dan berdiri di kawasan strategis pusat aktivitas ekonomi Samarinda. Lokasinya berdekatan dengan pelabuhan, Citra Niaga, dan Pasar Pagi. Meski sempat muncul kekhawatiran soal kekhusyukan ibadah karena berada di pusat keramaian, pemerintah menilai posisi tersebut justru memudahkan akses masyarakat untuk singgah beribadah.

Renovasi tahap lanjutan yang dikerjakan Pemerintah Kota Samarinda dilakukan di atas lahan seluas sekitar 15.000 meter persegi. Pekerjaan mencakup penguatan struktur bangunan, pembaruan fasilitas, serta pemanfaatan material yang lebih kokoh dengan dukungan teknologi modern.

Fasilitas yang ditingkatkan antara lain sistem pengeras suara, penataan area wudhu dengan partisi seluas 10,56 meter persegi, serta penyempurnaan sarana penunjang kenyamanan jamaah. Pemerintah menyebut pembiayaan pembangunan turut melibatkan dukungan berbagai pihak, termasuk masyarakat dan para donatur.

Dalam kesempatan itu, wali kota juga mengutip QS An-Nur ayat 36–37 sebagai pengingat fungsi masjid sebagai pusat mengingat Allah SWT, sekaligus tempat tumbuhnya kegiatan ibadah, pendidikan, dan sosial kemasyarakatan.

Menutup rangkaian acara, Andi Harun secara resmi menyatakan renovasi tahap lanjutan telah selesai dan masjid dapat dimanfaatkan sepenuhnya oleh masyarakat. Peresmian ini menjadi penanda babak baru perjalanan Masjid Raya Darussalam Samarinda sebagai salah satu pusat kegiatan keagamaan utama di kota ini. (M.I.A.D)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *