RingkasanMedia.id – Jember, Prestasi membanggakan kembali ditorehkan mahasiswa Universitas Mulawarman (UNMUL). Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Teater Yupa berhasil meraih Juara I Tangkai Lomba Monolog pada Pekan Seni Mahasiswa Nasional (PEKSIMINAS) XVIII Tahun 2026 yang berlangsung di Universitas Jember, Jawa Timur, pada 8–10 September 2026.
Penghargaan tersebut diraih melalui pementasan monolog berjudul Prodo Imitatio, karya Arthur S. Nalan, yang dibawakan oleh Feby Febriana Hidayat atau yang akrab disapa Bovy, mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UNMUL.
Melalui pendekatan satire yang tajam, Prodo Imitatio mengangkat isu jual beli gelar akademik dan mengajak penonton mempertanyakan kembali makna pendidikan di tengah realitas yang kerap menempatkan gelar sebagai simbol pengakuan, bukan lagi sebagai hasil dari proses keilmuan.
Alih-alih menyampaikan kritik secara langsung, naskah ini menghadirkan dunia yang absurd dan penuh ironi. Penonton diajak tertawa melalui berbagai situasi ganjil yang disuguhkan, sebelum akhirnya menyadari kegelisahan yang tersembunyi di balik cerita tersebut.
Pementasan ini dipersiapkan selama kurang lebih dua bulan dengan proses latihan yang intensif. Mulai dari pendalaman karakter, eksplorasi permainan panggung, pengembangan konsep artistik, hingga pematangan aspek teknis dilakukan secara berkelanjutan demi menghasilkan pertunjukan terbaik di tingkat nasional.
“Berdirinya saya di sini bukan semata-mata atas nama pribadi. Ada banyak orang yang ikut berjuang, menemani, dan menjadi bagian dari setiap proses hingga akhirnya saya bisa sampai di titik ini,” ujar Bovy.
Ia mengakui perjalanan menuju panggung nasional bukanlah hal yang mudah. Kelelahan fisik, tekanan mental, hingga keraguan sempat menjadi bagian dari proses yang harus dilalui.
“Ada lelah, tekanan, keraguan, bahkan momen ketika rasanya ingin berhenti. Namun dari proses itulah saya belajar bahwa untuk berdiri di sini bukan hanya kemampuan yang dibutuhkan, tetapi juga ketahanan untuk tetap bertahan,” ungkapnya.
Pimpinan Produksi, Febriana Dirot, menjelaskan bahwa persiapan dilakukan secara menyeluruh dengan melibatkan mahasiswa dari berbagai fakultas.
“Proses ini membutuhkan komitmen, kerja sama, dan kesiapan dari seluruh tim untuk memberikan hasil yang terbaik,” katanya.
Produksi Prodo Imitatio didukung oleh tim kreatif yang terdiri atas Muhammad Subhan Askori dan Rafly Aprilyan sebagai penata setting, Novia Risky Amelia, Rehan Hasyim Ramadhan, Adinda Tri Purnama Dewi, Zakiyyah Putri Salsabila, dan Dionisia Peni Kolin sebagai penata musik, Meisya Rahma Kalisa sebagai penata rias dan kostum, Mohammad Nurul Djihram sebagai penata cahaya, serta Jumriani selaku Ketua UKM Teater Yupa UNMUL.
Pelatih sekaligus dramaturg pertunjukan, Sigit Prhabu, menilai pemilihan naskah Prodo Imitatio berangkat dari keyakinan bahwa teater tidak hanya berfungsi merefleksikan kenyataan, tetapi juga menciptakan jarak agar realitas dapat dilihat dengan lebih jernih.
Menurutnya, naskah karya Arthur S. Nalan memanfaatkan absurditas sebagai perangkat dramaturgis untuk membongkar persoalan yang sering dianggap biasa oleh masyarakat.
“Ketika gelar memiliki nilai lebih tinggi daripada pengetahuan dan legitimasi dapat dibeli, pendidikan tidak hanya mengalami penyimpangan, tetapi juga mengalami pergeseran makna,” ujar Sigit.
Ia menambahkan, tawa yang muncul sepanjang pertunjukan bukanlah tujuan akhir, melainkan cara untuk membuka ruang kesadaran bagi penonton.
“Tawa bukan tujuan akhir, melainkan pintu masuk menuju kesadaran,” katanya.
Hal itu diperkuat melalui latar cerita di negeri fiktif bernama Manaboa. Dunia rekaan tersebut menjadi cermin yang memungkinkan penonton melihat berbagai persoalan sosial tanpa merasa sedang ditunjuk secara langsung.
“Manaboa menjadi cermin yang tidak menunjuk langsung kepada siapa pun, tetapi memungkinkan siapa pun merasa sedang melihat dirinya sendiri,” jelas Sigit.
Baginya, kekuatan teater terletak pada kemampuannya menghadirkan pertanyaan yang terus hidup bahkan setelah pertunjukan berakhir.
“Teater tidak selalu harus memberikan jawaban. Kadang yang lebih penting adalah membuat pertanyaan itu terus bekerja di dalam pikiran penonton,” tambahnya.
Atas capaian tersebut, Rektor Universitas Mulawarman Prof. Dr. Ir. H. Abdunnur, M.Si., IPU., ASEAN Eng., menyampaikan apresiasi dan ucapan selamat kepada seluruh kontingen UNMUL, pembina, dosen pendamping, tenaga kependidikan, mahasiswa, serta semua pihak yang telah mendukung keberhasilan tersebut.
Keberhasilan ini semakin menegaskan konsistensi Teater Yupa UNMUL dalam menjadikan panggung seni sebagai ruang kreativitas sekaligus media refleksi terhadap berbagai persoalan sosial yang berkembang di masyarakat.
Lebih dari sekadar trofi dan gelar juara, Prodo Imitatio meninggalkan sebuah pesan yang terus menggema: ketika gelar dapat diperjualbelikan, apa yang sebenarnya sedang dihargai—pengetahuan atau sekadar pengakuan?
Panggung boleh padam, namun pertanyaan itu tetap menyala. (M.I.A.D)







