RingkasanMedia.id – Samarinda, Kualitas udara di Kota Samarinda, Kalimantan Timur (Kaltim), masih berada pada kategori tidak sehat pada Selasa (20/10/2026). Hujan yang mulai turun di sejumlah wilayah dinilai belum cukup membantu memperbaiki kondisi udara yang terdampak kabut asap.
Forecaster BMKG Stasiun Meteorologi APT Pranoto Samarinda, Gilang Arya, mengatakan kualitas udara sempat berada pada kategori sedang pada pagi hari. Namun, berdasarkan pemantauan, kondisinya memburuk hingga masuk kategori tidak sehat.
“Dari pagi tadi itu sebenarnya ada di kategori sedang. Tapi mulai jam 7 pagi sampai jam 10, jam 11 terakhir, itu memang trennya naik. Jadi sekarang berada di kategori tidak sehat,” kata Gilang saat diwawancarai, Selasa.
Menurut Gilang, kondisi tersebut tidak jauh berbeda dibandingkan beberapa hari sebelumnya. Meski hujan mulai turun di sejumlah titik, intensitas dan durasinya dinilai belum cukup untuk membantu memperbaiki kualitas udara secara signifikan.
Berdasarkan pemantauan BMKG pada Senin (19/10/2026), hujan terjadi di wilayah Samarinda bagian tengah hingga utara, dengan curah hujan berkisar 0,5–20 milimeter.
“Beberapa hari belakangan ini hujan yang terjadi juga masih di intensitas ringan. Jadi cukup memperbaiki, tapi mungkin agak butuh hujan yang lebih banyak lagi,” ujarnya.
Gilang memperkirakan kualitas udara Samarinda masih berpotensi bertahan pada kategori tidak sehat dalam beberapa hari ke depan, terutama apabila hujan tidak kembali turun atau intensitasnya masih rendah.
Ia menjelaskan, hujan dapat membantu mengurangi konsentrasi partikel di udara. Namun, tingkat perbaikannya bergantung pada intensitas dan sebaran hujan di wilayah terdampak.
“Kurang lebih untuk beberapa hari ke depan sih masih akan bertahan. Kurang lebih sama kondisinya seperti hari ini. Masih di kategori tidak sehat,” kata Gilang.
Curah Hujan Diprakirakan Meningkat
BMKG memprakirakan curah hujan pada dasarian kedua Oktober, yakni periode 11–20 Oktober 2026, berkisar 10–20 milimeter di sejumlah wilayah Kalimantan Timur. Sementara itu, wilayah utara, seperti Berau dan bagian hulu Malinau, diprakirakan menerima curah hujan sekitar 50–75 milimeter.
Prakiraan tersebut menunjukkan adanya peluang peningkatan curah hujan di sejumlah wilayah. Hujan dengan intensitas lebih tinggi diharapkan dapat membantu mengurangi konsentrasi partikel asap, meskipun dampaknya terhadap kualitas udara tetap bergantung pada kondisi cuaca dan sumber pencemaran di lapangan.
BMKG juga memperkirakan awal musim hujan di Samarinda dan sejumlah wilayah Kaltim mulai berlangsung pada dasarian ketiga Oktober, atau sekitar 21–30 Oktober 2026. Waktu awal musim hujan dapat berbeda antara satu wilayah dan wilayah lainnya.
Selain itu, BMKG memprakirakan potensi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat di sejumlah wilayah Indonesia pada periode 11–20 November 2026.
Masyarakat Diminta Batasi Aktivitas Luar Ruangan
Di tengah kondisi kualitas udara yang masih berada pada kategori tidak sehat, masyarakat diimbau meningkatkan kewaspadaan dan mengurangi aktivitas di luar ruangan, terutama ketika kondisi udara memburuk.
Masyarakat juga dapat menggunakan masker yang sesuai saat harus beraktivitas di luar, menghindari kegiatan fisik berat di area terbuka, serta memantau informasi kualitas udara dan perkembangan cuaca dari sumber resmi.
Hujan yang mulai turun menjadi harapan bagi perbaikan kondisi udara Samarinda. Namun, hingga curah hujan meningkat dan kualitas udara menunjukkan perbaikan, masyarakat tetap perlu mengantisipasi dampak kabut asap terhadap kesehatan. (M.I.A.D)







