Hotel Puri Senyiur Samarinda Resmi Raih Sertifikat Halal, Jadi Pelopor Perhotelan Halal di Kaltim

RingkasanMedia.id – Samarinda, Industri perhotelan di Kalimantan Timur mencatat tonggak penting. Hotel Puri Senyiur Samarinda resmi meraih sertifikat halal dan menjadi hotel konvensional pertama di Samarinda yang memperoleh pengakuan tersebut.

Sertifikat halal ini diserahkan dalam kegiatan yang digelar di Kedang Kepala Room, Hotel Puri Senyiur Samarinda, Rabu pagi (22/04/2026), disaksikan oleh jajaran Majelis Ulama Indonesia (MUI), LPPOM MUI Kaltim, manajemen hotel, serta rekan media.

Bacaan Lainnya

General Manager Corporate Senyiur Hotel Group, Syiar Islami, dalam sambutannya menyampaikan bahwa pencapaian ini merupakan momen bersejarah, tidak hanya bagi manajemen hotel, tetapi juga bagi perkembangan industri pariwisata di Samarinda.

Menurutnya, keberhasilan tersebut merupakan wujud dari visi owner, Muhammad Jos Soetomo, yang menekankan bahwa bisnis tidak hanya berorientasi pada keuntungan, tetapi juga menghadirkan keberkahan dan ketenangan bagi masyarakat.

“Sertifikasi ini menjadi bukti bahwa pelayanan terbaik adalah pelayanan yang memberikan rasa aman, nyaman, dan kepercayaan kepada tamu, khususnya dalam menikmati makanan dan minuman,” ujarnya.

Ia menegaskan, seluruh proses operasional telah disesuaikan dengan regulasi yang berlaku, mulai dari pemilihan bahan baku, penyimpanan, pengolahan di dapur, hingga penyajian kepada tamu. Semua tahapan telah melalui audit ketat dan dinyatakan memenuhi standar syariah serta kesehatan.

Lebih lanjut, pihak manajemen juga berkomitmen mendorong unit lain di bawah Senyiur Hotel Group untuk mengikuti proses sertifikasi halal, seperti Grand Senyiur yang saat ini tengah dalam tahap pengajuan.

“Kami ingin seluruh ekosistem Senyiur Group menjadi pionir dalam menghadirkan pariwisata ramah muslim di Kalimantan Timur,” tegasnya.

Sementara itu, Ketua MUI Provinsi Kalimantan Timur, KH. Muhammad Rasyid, mengapresiasi langkah Hotel Puri Senyiur sebagai pelopor hotel bersertifikat halal di daerah.

Ia menilai, penerapan prinsip halal tidak hanya berkaitan dengan aturan agama, tetapi juga berdampak pada kesehatan fisik dan mental masyarakat.

“Halal bukan hanya soal boleh atau tidak, tetapi juga menyangkut kesehatan. Apa yang dikonsumsi akan memengaruhi tubuh dan jiwa. Karena itu, prosesnya juga harus dijaga, tidak hanya bahannya,” jelasnya.

Ia juga menyoroti pentingnya penguatan industri halal sebagai bagian dari upaya meningkatkan daya saing Indonesia di tingkat global.

“Indonesia adalah negara dengan penduduk Muslim terbesar, namun saat ini masih berada di peringkat keempat industri halal dunia. Kita berharap ke depan bisa menjadi yang terdepan,” ujarnya.

Proses Penyerahan Sertifikat Halal MUI ke Manajemen Puri Senyiur Hotel Samarinda (22/04/2026) Photo: Tim Ringkasan Media

Di sisi lain, Ketua LPPOM MUI Kalimantan Timur, Sumarsongko, menjelaskan bahwa proses sertifikasi halal saat ini telah mengalami perubahan sistem dibandingkan sebelumnya.

“Dulu sertifikasi cukup di MUI daerah, tetapi sekarang melalui Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH). Setelah melalui audit dan fatwa di daerah, berkas akan diproses secara nasional hingga penerbitan sertifikat,” terangnya.

Ia mengakui bahwa proses tersebut terkadang memerlukan waktu karena dinamika dan tahapan yang cukup kompleks. Meski demikian, pihaknya terus berupaya memberikan pendampingan maksimal kepada pelaku usaha.

Sumarsongko juga mengingatkan pentingnya komitmen pelaku usaha dalam menjaga standar halal secara konsisten, tidak hanya saat proses sertifikasi, tetapi juga dalam operasional sehari-hari.

“Kami menitipkan komitmen ini kepada manajemen hotel untuk menjaga kehalalan, mulai dari bahan baku hingga proses pengolahan. Jika ada perubahan bahan, mohon segera diinformasikan agar tetap sesuai dengan standar yang telah ditetapkan,” tegasnya.

Ia juga berharap peran media dapat membantu menyebarluaskan pemahaman terkait pentingnya sertifikasi halal kepada masyarakat luas.

Dengan diraihnya sertifikat halal ini, Hotel Puri Senyiur Samarinda diharapkan mampu menjadi role model bagi industri perhotelan di Kalimantan Timur, sekaligus memperkuat ekosistem pariwisata yang ramah muslim dan berdaya saing. (M.I.A.D)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *