RingkasanMedia.id – Samarinda, UIN Sultan Aji Muhammad Idris Samarinda menggelar Sidang Senat Terbuka dalam rangka pengukuhan Khojir sebagai Guru Besar dalam Bidang Ilmu Pendidikan Islam Multikultural. Kegiatan tersebut berlangsung di Auditorium 22 Dzulhijjah, Jumat (17/4/2026).
Melalui pengukuhan ini, Prof. Khojir resmi menjadi Guru Besar ke-17 di lingkungan UINSI. Saat ini, tercatat sebanyak 12 Guru Besar aktif yang berperan dalam pelaksanaan tridharma perguruan tinggi.
Dalam pidato pengukuhannya yang berjudul “Pesantren: Laboratorium Multikulturalisme dan Toleransi”, Prof. Khojir menegaskan bahwa pesantren memiliki peran strategis dalam menjaga harmoni sosial di tengah tantangan keberagaman dan arus globalisasi.
“Pesantren tidak hanya menjadi tempat belajar agama, tetapi juga ruang hidup yang menumbuhkan nilai toleransi, dialog, dan harmoni sosial,” ujarnya.
Ia menyoroti bahwa tantangan pendidikan Islam saat ini masih didominasi pendekatan pembelajaran yang bersifat tekstual dan belum sepenuhnya menyentuh realitas sosial. Kondisi tersebut dinilai berpotensi melahirkan cara pandang keagamaan yang sempit dan kurang adaptif terhadap keberagaman.
Sebagai solusi, Prof. Khojir menawarkan model pembelajaran halaqah berbasis kearifan lokal yang mengintegrasikan nilai-nilai agama dengan budaya, tradisi, serta praktik sosial masyarakat. Pendekatan ini dinilai efektif dalam meningkatkan pemahaman serta sikap toleransi santri, baik dari sisi pengetahuan maupun keterbukaan sosial.
Menurutnya, pesantren memiliki potensi besar sebagai agen perdamaian, terlebih di tengah perubahan sosial yang cepat, termasuk dengan hadirnya pembangunan Ibu Kota Nusantara.
“Pesantren harus mampu menjembatani antara agama, tradisi, dan modernitas. Dengan begitu, santri tidak hanya religius, tetapi juga toleran dan adaptif terhadap perubahan zaman,” tegasnya.
Sementara itu, Rektor UINSI Samarinda, Zurqoni, menyampaikan bahwa pengukuhan Guru Besar merupakan langkah strategis dalam memperkuat kontribusi keilmuan perguruan tinggi keagamaan Islam di tengah dinamika masyarakat yang semakin kompleks.
Ia menegaskan bahwa pesantren sebagai bagian integral dari ekosistem pendidikan Islam memiliki peran penting dalam membentuk karakter moderat dan toleran, sekaligus menjadi ruang sosial yang menumbuhkan kesadaran multikultural melalui interaksi santri dari berbagai latar belakang.
“Prof. Khojir diharapkan dapat memberikan kontribusi pemikiran dalam pengembangan model pembelajaran halaqah berbasis kearifan lokal yang mampu membentuk karakter multikultural santri,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia menambahkan bahwa pesantren saat ini tengah berada dalam fase transformasi dari lembaga tradisional menuju institusi pendidikan yang adaptif, terbuka, dan profesional.
Melalui pengukuhan ini, UINSI Samarinda kembali menegaskan komitmennya sebagai perguruan tinggi keagamaan Islam yang tidak hanya berakar pada tradisi pesantren dan madrasah, tetapi juga mampu menghadirkan pendidikan Islam yang inklusif, kontekstual, serta relevan dengan kebutuhan zaman. (M.I.A.D)






