RingkasanMedia.id – Samarinda, Di sebuah bengkel yang terletak di Jl. AW. Syahrani, tepatnya dekat jembatan flyover, kendaraan-kendaraan terlihat menumpuk, menunggu giliran untuk diperbaiki. Masalah yang dialami oleh pemilik kendaraan hampir serupa: mesin brebet setelah mengisi bahan bakar Pertamax. Kejadian ini terjadi pada Jumat (4/4/25) dan segera menarik perhatian banyak orang.
Salah satu pemilik motor, Yafi, berbagi pengalaman mengecewakannya. Ia menceritakan bahwa motornya, Honda Vario, mulai menunjukkan gejala aneh ketika melintas di Simpang Mall Lembuswana. “Setiap digas tinggi, mesin kadang mati sendiri,” ungkapnya, terlihat khawatir.
Tak ingin berlama-lama menghadapi masalah tersebut, Yafi membawa motornya ke bengkel terdekat. Setelah dilakukan pengecekan, mekanik menyarankan untuk mengganti spare part fuel pump, dengan biaya perbaikan yang cukup mahal, mencapai Rp 700 ribu.
Andre, salah seorang mekanik di bengkel tersebut, mengungkapkan bahwa dalam beberapa pekan terakhir, banyak motor yang datang dengan masalah serupa. “Banyak kendaraan yang mengeluh mesin brebet, bahkan ada yang tidak bisa menyala sama sekali setelah mengisi BBM,” ujar Andre.
Yang lebih mengejutkan, masalah ini tidak hanya terjadi pada pengguna Pertamax, tetapi juga pada pengguna Pertalite. “Tidak hanya Pertamax, banyak kendaraan juga mengalami hal yang sama setelah mengisi Pertalite,” tambah Andre.
Setelah pemeriksaan lebih lanjut, ditemukan fakta mengejutkan. Tangki bahan bakar pada kendaraan yang bermasalah ternyata dipenuhi kotoran yang mengendap, terutama di bagian fuel pump. “Setelah kami lakukan pengurasan tangki, fuel pump terlihat sangat kotor dan menyumbat aliran bahan bakar,” jelas Andre.
Lebih aneh lagi, aroma bahan bakar yang dikeluarkan dari tangki memiliki bau yang tidak biasa. “Bau BBM-nya lebih tajam, seperti bau tiner, bukan aroma BBM biasa,” ungkapnya.
Temuan ini semakin memperkuat dugaan adanya masalah pada kualitas pasokan bahan bakar di daerah tersebut. Banyak warga dan pemilik kendaraan mulai mempertanyakan keamanannya. Tak sedikit yang mengungkapkan kekecewaannya di media sosial, seperti yang ditulis oleh pengguna @Rah**** di Instagram @kaltimetam, “Kalau memang ini akibat BBM, siapa yang bertanggung jawab?”
Khawatir akan kejadian serupa, banyak pengendara di Samarinda kini mulai lebih hati-hati dalam memilih SPBU. Beberapa bahkan beralih ke SPBU lain atau memilih membeli BBM eceran untuk menghindari masalah ini.
Kasus ini masih menyisakan tanda tanya besar. Apakah masalah ini disebabkan oleh kualitas bahan bakar yang buruk ataukah ada masalah dalam distribusinya? Hingga investigasi lebih lanjut, pengendara diharapkan lebih waspada dan segera memeriksa kendaraan jika merasakan gejala serupa.
Perkembangan terbaru terkait masalah ini masih ditunggu, dan banyak pihak berharap ada tindakan tegas untuk memastikan kualitas bahan bakar yang aman digunakan oleh masyarakat.






