RingkasanMedia.id, Jakarta – Layanan transportasi daring seperti Gojek dan Grab terancam lumpuh pada Selasa, 20 Mei 2025. Ancaman ini muncul seiring rencana aksi mogok nasional yang akan dilakukan ratusan ribu pengemudi ojek online (ojol) di seluruh Indonesia.
Aksi yang diinisiasi oleh Garda Indonesia—organisasi yang mewadahi pengemudi ojol—dilatarbelakangi oleh ketidakpuasan terhadap potongan aplikasi dan skema tarif yang dianggap merugikan mitra pengemudi. Selain turun ke jalan, para driver juga akan mematikan aplikasi selama 24 jam sebagai bentuk protes kolektif.
—
Apa yang Terjadi dan Mengapa Mereka Mogok?
Ketua Umum Garda Indonesia, Raden Igun Wicaksono, menyampaikan bahwa aksi ini merupakan bentuk perlawanan terhadap kebijakan yang selama ini dinilai tidak adil.
“Kami mengimbau seluruh mitra pengemudi, baik roda dua maupun roda empat, untuk menonaktifkan aplikasi mulai pukul 00.00 hingga 23.59 WIB pada 20 Mei. Ini aksi damai dan dilakukan serentak di seluruh Indonesia,” ujar Igun dalam konferensi pers, Senin (13/5).
Menurut Igun, potongan sewa aplikasi yang mencapai 30–35 persen per perjalanan sangat memberatkan driver. Selain itu, skema “tarif hemat” membuat pendapatan pengemudi semakin tidak sebanding dengan biaya operasional di lapangan.
—
Apa Tuntutan Para Driver?
Dalam pernyataan tertulisnya, para pengemudi menyampaikan tiga tuntutan utama yang menjadi dasar aksi mogok nasional ini:
1.Menurunkan potongan aplikasi dari 30–35 persen menjadi maksimal 10 persen;
2.Menghapus skema tarif hemat yang dinilai menekan pendapatan driver;
3.Menjamin perlindungan hukum dan kesejahteraan bagi seluruh mitra pengemudi.
Selain itu, para driver juga menuntut agar perusahaan aplikator mematuhi regulasi pemerintah yang telah ditetapkan, yakni:
Peraturan Menteri Perhubungan (Permenhub) Nomor 12 Tahun 2019, yang mengatur perlindungan mitra pengemudi;
Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KP 667 Tahun 2022* dan *KP 1001 Tahun 2022*, yang mengatur batas tarif dan mekanisme kemitraan.
—
Keluhan di Lapangan: Pendapatan Tergerus, Biaya Operasional Meningkat
Kondisi pengemudi ojol yang semakin sulit juga tergambar dari berbagai keluhan yang disuarakan melalui media sosial.
Salah satu pengemudi dengan akun @saiful\_2101 menulis:
“Dulu dari tarif Rp100 ribu, kami masih bisa bawa pulang Rp65 ribu. Sekarang, tarif ditekan jadi Rp80 ribu, tapi potongannya tetap besar. Hasil bersih tinggal Rp45 ribu. Itu belum untuk bensin dan makan.”
Keluhan serupa ramai di berbagai platform, mencerminkan keresahan kolektif yang mendasari rencana aksi mogok nasional ini.
—
Dampak Potensial: Layanan Terganggu, Mobilitas Warga Tersendat
Aksi ini diperkirakan akan berdampak luas, khususnya di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, Medan, dan Makassar. Dengan skala aksi yang bersifat nasional dan serentak, masyarakat pengguna ojol diimbau untuk
menyiapkan alternatif transportasi.
“Layanan transportasi daring kemungkinan besar tidak akan beroperasi normal. Kami sarankan masyarakat bersiap dan mengatur ulang aktivitas harian,” ujar Igun.
Di sisi lain, belum ada tanggapan resmi dari Gojek maupun Grab terkait aksi ini. Upaya konfirmasi dari media masih belum mendapat balasan dari juru bicara kedua perusahaan.
—
Pengamat: Ini Saatnya Perusahaan Aplikator Introspeksi
Pengamat transportasi dari Universitas Indonesia, Dr. Budi Kuncoro, menilai bahwa aksi ini merupakan cerminan dari ketimpangan sistem kerja digital yang telah lama dikeluhkan para mitra.
“Aksi ini menunjukkan bahwa ada persoalan struktural yang belum terselesaikan. Jika aplikator tidak segera mengevaluasi kebijakan, kepercayaan mitra dan masyarakat bisa tergerus,” katanya.
—
Apa yang Harus Dilakukan Masyarakat?
Masyarakat disarankan untuk:
1.Menghindari perjalanan yang tidak mendesak pada 20 Mei 2025;
2.Menyiapkan alternatif transportasi seperti kendaraan pribadi, angkutan umum, atau layanan taksi konvensional;
3.Memantau informasi terbaru terkait jalur-jalur demonstrasi dan potensi kemacetan di wilayah masing-masing.
Penutup: Momen Penting bagi Ekosistem Transportasi Daring
Aksi mogok nasional ini menjadi momentum penting dalam dinamika hubungan antara perusahaan teknologi dan para pekerja digital. Jika tidak dikelola dengan baik, ketegangan antara aplikator dan mitra pengemudi dapat memengaruhi masa depan industri transportasi daring di Indonesia.
Tanggal 20 Mei 2025 akan menjadi penanda: Apakah suara driver akan didengar, atau justru kembali diabaikan?






