Samarinda Diselimuti Kabut Asap, PM2.5 Tembus Level Berbahaya, Warga Diminta Batasi Aktivitas Luar Ruangan

RingkasanMedia.id – Samarinda, Udara pagi di Kota Samarinda pada Kamis (17/9/2026) menghadirkan kondisi yang menipu. Hawa sejuk dan kabut tipis yang terasa menyegarkan ternyata menyimpan ancaman serius bagi kesehatan masyarakat. Di balik suhu yang relatif dingin, kualitas udara tercatat berada pada level berbahaya akibat tingginya konsentrasi partikel halus PM2.5 yang berasal dari kabut asap.

Berdasarkan pemantauan real-time Stasiun Meteorologi Aji Pangeran Tumenggung (APT) Pranoto Samarinda pada pukul 09.00 Wita, konsentrasi PM2.5 mencapai 341,7 mikrogram per meter kubik (µg/m³) dan masuk kategori “Berbahaya”. Sementara itu, pemantauan kualitas udara sebelumnya juga menunjukkan Air Quality Index (AQI) Samarinda berada pada angka 170 atau kategori “Tidak Sehat”.

Bacaan Lainnya

Kondisi tersebut terjadi saat suhu udara berada di kisaran 24 derajat Celsius dengan kelembapan mencapai 82 persen. Cuaca yang terasa dingin dan berkabut sebenarnya merupakan akumulasi asap dan partikel polutan yang terperangkap di dekat permukaan tanah.

Fenomena ini dipengaruhi oleh inversi suhu, yakni kondisi ketika lapisan udara dingin berada di dekat permukaan bumi dan menahan pergerakan udara hangat di atasnya. Akibatnya, partikel asap hasil kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tidak dapat naik dan menyebar ke atmosfer yang lebih tinggi, melainkan berkumpul di area permukiman warga.

Pergerakan angin yang relatif lambat juga memperparah situasi. Dengan kecepatan angin yang rendah, partikel-partikel polutan bertahan lebih lama di udara dan meningkatkan risiko paparan bagi masyarakat.

Paparan PM2.5 dalam konsentrasi tinggi dapat menimbulkan berbagai gangguan kesehatan, mulai dari iritasi mata dan tenggorokan, batuk, sesak napas, hingga memperburuk kondisi penderita asma dan penyakit paru kronis. Kelompok yang paling rentan meliputi anak-anak, lansia, ibu hamil, serta masyarakat dengan riwayat penyakit pernapasan dan jantung.

Pemerintah Kota Samarinda melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) sebelumnya telah mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan dan meminimalkan aktivitas di luar ruangan selama kualitas udara berada pada level tidak sehat hingga berbahaya.

Warga yang terpaksa beraktivitas di luar rumah disarankan menggunakan masker dengan kemampuan filtrasi tinggi seperti N95 atau KN95. Penggunaan masker kain maupun masker biasa dinilai tidak cukup efektif untuk menyaring partikel PM2.5 yang sangat halus.

Selain itu, masyarakat juga diminta menjaga kualitas udara di dalam rumah dengan menutup pintu dan jendela saat konsentrasi asap meningkat. Penggunaan air purifier dengan filter HEPA dapat menjadi pilihan tambahan untuk membantu menyaring partikel polutan di dalam ruangan.

Di sektor pendidikan, sejumlah sekolah juga telah menerapkan sistem Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) guna mengurangi risiko paparan asap terhadap peserta didik.

Masyarakat diimbau untuk terus memantau perkembangan kualitas udara melalui kanal resmi BMKG maupun aplikasi pemantauan kualitas udara. Apabila mengalami gejala seperti batuk berkepanjangan, iritasi tenggorokan, mata perih, atau kesulitan bernapas, warga disarankan segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat.

Dengan musim kemarau yang masih berlangsung dan potensi kebakaran lahan yang belum sepenuhnya terkendali, disiplin menjalankan langkah-langkah perlindungan diri menjadi kunci utama untuk meminimalkan dampak buruk kabut asap terhadap kesehatan masyarakat Samarinda. (M.I.A.D)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *