Proyek Rp 28,9 Miliar Dipertanyakan, Jalan Penghubung Merdeka-Pelita 3 Samarinda Terputus

Ringkasanmedia.id SAMARINDA– Jalan alternatif penghubung antara Jalan Merdeka dan Jalan Sultan Alimuddin (Pelita 3) di Samarinda yang baru saja diresmikan pada 1 Maret 2024 kini mengalami kerusakan parah akibat longsor. Infrastruktur sepanjang 2,8 kilometer yang menelan anggaran sebesar Rp 28,9 miliar tersebut kini terputus total, memaksa warga menggunakan jalur alternatif yang lebih jauh dan kurang nyaman.

Kerusakan ini tidak hanya mengganggu aktivitas harian warga, tetapi juga menimbulkan kritik tajam terhadap kualitas proyek pembangunan yang dinilai tidak memadai.

Ismail Malika, salah seorang warga Merdeka Samarinda, mengungkapkan keresahannya terkait kondisi jalan yang rusak dan terputus selama lebih dari satu bulan tanpa ada tanda-tanda perbaikan.

“Jalan penghubung ini sebelumnya sangat membantu kami mempercepat mobilitas sehari-hari. Sekarang, kami terpaksa menggunakan Jalan Handil Kopi sebagai jalur alternatif. Tapi jalur ini jauh lebih panjang dan sering macet karena tidak dirancang untuk menampung volume kendaraan sebanyak ini,” ujarnya.

Menurutnya, kerusakan ini terjadi sekitar sebulan yang lalu, dengan longsor yang merusak struktur jalan di beberapa titik. Foto-foto yang beredar di media sosial menunjukkan kondisi jalan yang hancur, memperkuat kekecewaan masyarakat terhadap kualitas proyek tersebut.

Kualitas Proyek Dipertanyakan
Kerusakan jalan yang baru berusia kurang dari setahun ini menuai kritik tajam dari berbagai pihak. Banyak yang mempertanyakan bagaimana jalan dengan anggaran hampir Rp 29 miliar bisa mengalami kerusakan secepat ini.

“Saya sangat menyayangkan kualitas pembangunan jalan ini. Dengan anggaran sebesar itu, seharusnya jalan ini lebih kuat dan mampu bertahan lebih lama, meskipun terkena dampak bencana. Kami hanya berharap pihak yang bertanggung jawab segera memperbaiki jalan ini, karena akses ini sangat penting bagi kami,” kata Ismail.

Pembangunan jalan ini awalnya dirancang untuk meningkatkan aksesibilitas masyarakat Samarinda dan mengurangi beban lalu lintas di jalur utama. Namun, kenyataan di lapangan justru sebaliknya: masyarakat harus kembali menghadapi kesulitan akibat bencana longsor yang mengakibatkan jalur tersebut tidak dapat digunakan.

Masalah Perencanaan dan Stabilitas Tanah
Menurut pengamatan warga, longsor terjadi akibat kondisi tanah di sekitar jalur jalan yang tidak stabil. Beberapa pihak menduga tidak adanya penguatan struktur jalan yang memadai pada area rawan longsor menjadi penyebab utama.

“Kami sudah tahu daerah ini rawan longsor. Seharusnya, kontraktor dan pemerintah mempertimbangkan hal tersebut saat merencanakan pembangunan jalan. Kalau seperti ini, yang dirugikan ya masyarakat,” tambah Ismail.

Kritik juga datang dari para ahli dan aktivis lingkungan yang menilai bahwa perencanaan proyek tersebut kurang memperhatikan aspek lingkungan dan keamanan. Mereka mendesak agar ke depannya, pembangunan infrastruktur di Samarinda tidak hanya mengedepankan estetika, tetapi juga kualitas dan keberlanjutan.

Harapan Warga untuk Perbaikan Cepat
Masyarakat Samarinda kini menanti langkah cepat dari pemerintah daerah maupun pihak kontraktor yang bertanggung jawab atas proyek tersebut. Mereka berharap perbaikan segera dilakukan agar kerusakan tidak semakin parah dan bahaya longsor tidak meluas.

“Ini bukan hanya soal akses jalan. Kalau longsor dibiarkan terlalu lama, bisa merusak lingkungan lebih luas dan menyulitkan masyarakat lebih lama lagi,” pungkas Ismail.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari pihak kontraktor maupun pemerintah daerah mengenai rencana perbaikan jalan tersebut. Warga berharap persoalan ini dapat segera diatasi untuk mengembalikan kenyamanan dan keamanan dalam berkendara di wilayah Samarinda.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *