Edi Sound Dan Dentuman Horek: Ketika Rakitan Lokal Jadi Sensasi Nasional

Screenshot

 

Ringkasanmedia.id Jawa Timur- Suara bass menghentak, lampu kelap-kelip, dan musik remix menggema dari pelosok-pelosok desa. Inilah ciri khas dari “sound horeg”, sebuah tren audio ekstrem yang menjelma menjadi warna baru dalam hiburan rakyat Indonesia.

Di tengah gegap gempita itu, satu nama mencuat sebagai pionir di balik fenomena ini: Edi Sound. Ia bukan selebritas, bukan pula insinyur lulusan luar negeri. Tapi dari bengkel kecil di Jawa Timur, pria ini membangun reputasi sebagai “arsitek suara jalanan” yang menginspirasi ribuan pegiat audio rumahan.

Teknologi Jalanan, Semangat Tak Terbendung

Berbeda dari sistem audio profesional yang mahal dan rumit, sound horeg lahir dari kreativitas dan semangat do-it-yourself. Edi Sound menjadi salah satu sosok yang paling awal memperkenalkan konsep ini: menyusun amplifier rakitan, menyetel speaker lokal, dan mengatur frekuensi secara manual hingga menghasilkan efek suara yang mengguncang badan.

Di banyak video unggahan pengguna media sosial, suara rakitan Edi mampu membelah malam dan menyulap jalanan menjadi lantai dansa terbuka. Tak heran jika banyak yang menyebutnya “Thomas Alva Edisound” — sebuah plesetan jenaka yang merujuk pada perannya sebagai penemu gaya baru di dunia sound system lokal.

Lebih dari Sekadar Bass

Sound horeg bukan sekadar soal kerasnya suara. Ini adalah budaya baru: perpaduan antara teknologi, hiburan rakyat, dan estetika jalanan. Musik yang dimainkan kerap berupa remix koplo, EDM dangdut, hingga lagu viral TikTok, disajikan dengan iringan visual LED dan kadang efek kabut.

Nama “horeg” sendiri diyakini merupakan plesetan dari kata “hore”, sebagai simbol suasana pesta yang ramai dan riuh. Tapi di balik kegembiraan itu, ada kerja keras yang tidak main-main. Edi dikenal rajin menyempurnakan setelan audio hingga larut malam, bahkan tidur pun kadang di samping speaker.

Guru bagi Banyak Penggemar Audio

Yang membuat Edi begitu dicintai oleh komunitas bukan hanya kepiawaiannya dalam merakit, tetapi juga keinginannya untuk berbagi. Ia dikenal sebagai mentor informal di berbagai grup audio lokal. Dari diskusi teknis hingga troubleshooting perangkat, Edi kerap jadi rujukan para pegiat baru.

“Buat Edi, ilmu itu harus jalan terus,” kata salah satu anggota komunitas sound rumahan di Jawa Timur. “Dia enggak pelit, malah senang kalau ada yang nanya dan bisa bantu.”

Sebuah Gerakan Sosial, Bukan Sekadar Tren

Mungkin sebagian orang akan melihat sound horeg sekadar sebagai musik keras dari kampung. Tapi bagi banyak anak muda, fenomena ini adalah bentuk ekspresi. Ia lahir dari keterbatasan, tumbuh melalui solidaritas, dan kini diakui sebagai bagian dari identitas budaya populer lokal.

Edi Sound, dengan segala keterbatasannya, menunjukkan bahwa inovasi tidak selalu lahir dari laboratorium. Kadang, ia muncul dari garasi kecil, dari meja solder, dari tangan-tangan yang tak pernah lelah bereksperimen demi satu hal: suara yang bisa menyatukan orang dalam tawa dan tarian. (ARD)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *