Di Tengah Krisis Global, Indonesia Catat Surplus Beras dan Bersiap Ekspor

RingkasanMedia.id, Jakarta – Ketika sejumlah negara di Asia dan Afrika tengah menghadapi krisis pangan, khususnya kelangkaan beras, Indonesia justru mencatatkan pencapaian positif. Data terbaru menunjukkan bahwa produksi beras nasional pada tahun 2025 mencapai 34,6 juta ton, meningkat 4,8 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Dengan cadangan yang kuat, stok beras yang dikelola Perum Bulog kini mencapai 3,7 juta ton.

Pemerintah pun mulai mengambil langkah strategis untuk memanfaatkan surplus ini, termasuk dengan mempersiapkan ekspor beras ke Malaysia sebesar 2.000 ton per bulan. Selain ekspor komersial, pemerintah juga tengah mempertimbangkan pengiriman beras untuk bantuan kemanusiaan ke sejumlah negara yang terdampak krisis pangan, seperti negara-negara di Afrika dan Palestina.

Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, menegaskan bahwa keberhasilan ini merupakan buah dari kesinambungan kebijakan pemerintah sebelumnya. Dalam Sidang Kabinet yang digelar pada 5 Mei 2025, Presiden Prabowo menyampaikan apresiasinya terhadap mantan Presiden Joko Widodo yang dinilainya telah membangun fondasi kuat di sektor pertanian.

“Surplus produksi beras ini tidak lepas dari peran besar Presiden Jokowi. Benar, Menteri Pertanian? Mungkin karena beliau pernah menjadi wali kota, jadi memahami cara menjaga stabilitas harga dan mengendalikan inflasi. Ini bukan sesuatu yang bisa dipelajari di Harvard atau MIT,” kata Presiden Prabowo dalam forum tersebut.

Sementara itu, Malaysia saat ini sedang menghadapi krisis pasokan beras. Produksi dalam negeri hanya mampu memenuhi sekitar 40 hingga 50 persen kebutuhan nasional. Menteri Pertanian Malaysia, Mohamad Sabu, bahkan telah menemui jajaran Kementerian Pertanian Indonesia untuk meminta dukungan.

“Kami sangat membutuhkan beras, dan kami ingin belajar dari pengalaman Indonesia dalam meningkatkan produktivitas pertanian,” ujar Mohamad Sabu usai pertemuan bilateral.

Kondisi serupa juga terjadi di beberapa negara lain. Jepang mengalami lonjakan harga beras akibat gagal panen dan mulai mengimpor dari Korea Selatan. Di Filipina, pemerintah menetapkan status darurat pangan, meski telah menurunkan tarif impor. Thailand, yang selama ini menjadi eksportir utama beras dunia, mencatat penurunan ekspor hingga 25 persen karena turunnya produktivitas.

Melihat dinamika global tersebut, Indonesia berada dalam posisi yang relatif lebih stabil dan bahkan unggul. Selain memenuhi kebutuhan dalam negeri, Indonesia kini memiliki peluang untuk memainkan peran lebih besar di pasar internasional sebagai salah satu negara pemasok beras.

Langkah ekspor yang tengah disiapkan pemerintah, diiringi dengan misi kemanusiaan untuk negara-negara terdampak, mencerminkan posisi strategis Indonesia dalam peta ketahanan pangan dunia. Di tengah krisis global yang kian kompleks, Indonesia membuktikan bahwa kemandirian pangan bukan hanya target, melainkan realitas yang dapat diraih melalui kebijakan yang konsisten dan berpihak pada petani.(AAY)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *