RingkasanMedia.id – Samarinda, Bank Indonesia mencatat inflasi Provinsi Kalimantan Timur pada Desember 2025 tetap terjaga dan berada di level yang lebih rendah dibandingkan inflasi nasional. Deputi Gubernur Bank Indonesia, Filianingsih Hendarta, menyampaikan bahwa inflasi tahunan Kalimantan Timur tercatat sebesar 2,68 persen (year on year), sementara inflasi nasional berada pada level 2,92 persen.
Capaian tersebut, menurut Filianingsih, merupakan hasil dari sinergi yang kuat antara Bank Indonesia dan pemerintah daerah melalui Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID). Sinergi ini mencakup koordinasi kebijakan yang intensif, penguatan kelancaran distribusi pangan, serta berbagai inovasi program pengendalian harga di daerah.
“Ini adalah hasil kerja sama yang solid. Kami mengapresiasi peran TPID Kalimantan Timur dalam menjaga stabilitas harga, terutama di tengah tantangan global dan dinamika pasokan pangan,” ujar Filianingsih, Senin (26/1/2026).
Ia menjelaskan bahwa secara nasional, inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) masih berada dalam sasaran Bank Indonesia, yakni 2,5 persen dengan kisaran plus minus 1 persen. Inflasi inti tetap terjaga rendah, tekanan imported inflation terkendali, serta inflasi volatile food didukung oleh penguatan berbagai program ketahanan pangan nasional.
Lebih lanjut, Filianingsih menekankan bahwa keberhasilan pengendalian inflasi di Kalimantan Timur tidak terlepas dari peran aktif pemerintah daerah dalam memperkuat sinergi bersama Tim Pengendalian Inflasi Pusat (TPIP) dan TPID. Selain itu, implementasi berbagai inovasi pengendalian inflasi pangan, mulai dari sisi produksi hingga distribusi, turut berkontribusi signifikan.
Atas kinerja tersebut, Kalimantan Timur berhasil meraih peringkat pertama sebagai provinsi dengan kinerja TPID terbaik tahun 2025 untuk wilayah Kalimantan. Penghargaan ini mencerminkan konsistensi pemerintah daerah dalam menjaga stabilitas harga sebagai fondasi utama bagi pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
“Ke depan, Bank Indonesia berharap capaian ini dapat terus dipertahankan dan bahkan ditingkatkan melalui penguatan koordinasi lintas sektor, terutama dalam menghadapi potensi tekanan inflasi akibat ketidakpastian ekonomi global,” pungkas Filianingsih. (M.I.A.D)






